BOLSEL, Arahmu.id – Aktivitas pertambangan manual galena atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai batu hitam di Desa Tolutu, Kecamatan Tomini, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, hingga kini masih menjadi penopang utama perekonomian ratusan warga.

Bagi masyarakat setempat, tambang tradisional tersebut bukan sekadar aktivitas mencari hasil bumi, melainkan sumber penghasilan yang menghidupi keluarga dari hari ke hari.

Hasil dari pertambangan manual selama ini dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan, batu hitam menjadi harapan bagi banyak kepala keluarga untuk memperoleh penghasilan secara mandiri.
Namun belakangan ini, aktivitas para penambang diliputi kekhawatiran.

Munculnya isu penutupan tambang membuat masyarakat resah karena dikhawatirkan akan menghilangkan satu-satunya sumber mata pencaharian yang mereka miliki.

Di sisi lain, sejumlah penambang mengaku kerap mendapat tekanan dari oknum tertentu yang mengatasnamakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pihak lainnya.

Bahkan, warga menduga ada praktik-praktik yang mengarah pada tindakan intimidasi dan pemerasan terhadap para penambang, sehingga menambah beban masyarakat yang hanya berusaha mencari nafkah secara tradisional.

Salah seorang penambang, Adi, mengatakan masyarakat hanya berharap dapat bekerja dengan tenang tanpa dihantui ancaman yang terus muncul.

“Kami tidak mencari kekayaan. Kami hanya ingin bekerja untuk menghidupi keluarga. Kalau tambang ini ditutup, kami bingung harus mencari penghasilan dari mana. Kami berharap pemerintah melihat kondisi masyarakat secara langsung,” ujarnya.

Menurutnya, aktivitas pertambangan manual di Tolutu telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi penggerak ekonomi lokal. Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap kini mampu memenuhi kebutuhan hidup melalui hasil tambang batu hitam.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan tidak hanya melihat persoalan dari sisi penegakan aturan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan ekonomi yang akan dirasakan warga apabila aktivitas tersebut dihentikan tanpa solusi.

Warga juga menginginkan adanya langkah pembinaan dan kepastian hukum bagi pertambangan rakyat, sehingga aktivitas penambangan dapat berjalan secara lebih tertib, aman, dan tetap memperhatikan aspek keselamatan maupun kelestarian lingkungan.

Bagi masyarakat Tolutu, batu hitam bukan hanya komoditas tambang. Di balik setiap hasil yang mereka peroleh, terdapat harapan untuk menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, serta mempertahankan kehidupan di tengah terbatasnya kesempatan kerja.

Masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang berkeadilan, yakni memberikan ruang bagi warga untuk tetap mencari nafkah melalui mekanisme yang legal dan teratur.

Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat dapat terus terjaga tanpa mengabaikan komitmen terhadap perlindungan lingkungan dan tata kelola pertambangan yang baik.(Admin?

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *