Siapa yang pantas memiliki Indonesia ?
Kita atau mereka yang lebih paham akan Indonesia ?
Negara dengan penduduk terbesar ke empat di bawah Amerika Serikat. Indonesia dengan jumlah penduduk menurut penelitian dari BPS kurang lebih 273,5 juta jiwa pada tahun 2020, ini angka populasi yang sangat luar biasa banyaknya. Ini data dari tahun 2020 kita tidak tau dua tahun dari Tahun itu sudah berpa banyak populasi Indonesia bertambah.
Melihat keadaan Indonesia yang hari ini sangat carut marut, di tambah dengan berbagai macam kepentingan pribadi, kelompok, dan bahkan kepentingan sebuah parpol. Demi “menghidupi dirinya dan kelompoknya”. Padahal kalau kita bicara Indonesia maka kita bicara tentang universalisme (bersifat satu paham yang umum, untuk semua), kalau kata pak Haidar Nasir Indonesia milik kita bersama.
Lantas kalau bicara tentang hal tersebut maka sangat tidak relevan dengan keadaan hari ini. Saya ingin sedikit mengambil parameter dari sang guru bangsa Buya Syafii Maarif. Beliau pernah mengeluarkan statement “bahwa semua orang sok-sok bicara Indonesia tapi sesungguhnya mereka tidak tau apa itu Indonesia, guru bicara tentang Indonesia tapi tidak tau Indonesia, apa lagi para politikus, ini kata beliau. Kalimat ini di sampaikan beliau disatu kesempatan beliau diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi nasional.
Kalau kita mengali frasiolgi dari ungkapan diatas maka kalimat tersebut terdapat sebuah bentuk (Anasir) yang ingin Buya sampaikan kepada kita bahwa kita kadang kala selalu mengatakan demi kepentingan rakyat, kepentingan bersama, namun ternyata dibalik itu terselubung niat-niat jahat untuk memperkaya diri sendiri. Yang kedua adalah bagaimana Buya mengatakan bahwa kita selalu sok lebih pandai bicara tentang Indonesia, tapi kita tidak pernah belajar secara mendalam sebenarnya apa itu Indonesia, padahal Indonesia itu bukan hanya sekedar sebutan tapi dia punya hakikat tersendiri, hanyak bagi yang mampu membaca itu, saya ingin meminjam kalimat dari Pak Haidar “bawa yang mampu membaca adalah mereka yang memiliki kesucian batin dan memiliki rasa cinta yang mendalam akan tanah air ini”, dari sini kita bisa merasakan sebuah tamparan yang keras untuk kita, bahwa ternyata kita belum pandai untuk melihat Indonesia dalam berbagai macam perspektif dan tidak bisa mengklasifikasi berbagi interpretasi dari berbagai pendiri bangsa.
Hari ini Indonesia selalu dibenturkan akan berbagi macam problem, dari problem yang dibuat-buat sampai yang memang datang secara hukum alam, dan semua itu tidak mampu disikapi oleh seluruh elit yang berdiri digarda paling depan negara, semua saling tudingan sana sini, masing-masing saling merasa punya cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan sebuah problem. Ingat kita ini dalam bentuk negara yang artinya bukan hanya dikerakan oleh satu orang tapi ada banyak orang, bagaimana dia disebut kerjasama tapi kerjanya sendiri, atau mungkin supya masing-masing mendapat perhatian dan popularitas dari rakyat yang merasakan sokongan solusi dari para elit.
Melihat Indonesia itu harus dengan berbagai macam kaca mata, agar sifat nisbi kita tidak akan terpakai dalam melihat Indonesia, Indonesia ini luas dan Indonesia ini kuat saat masyarakat yang hidup didalamnya bisa bertransformasi menjadi solid dan mampu mensejahterakan kehidupan bangsa.
Kunci agar kita bisa paham saat bicara keindonesiaan yang multikultural adalah lewat kita bisa satukan semua multidimensi kita dalam kemajemukan nilai luhur yang terkandung didalamnya, terakhir dari tulisan ini saya ingin mengutip kalimat dari Buya Syafii “Kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak yang tidak dapat ditawar”. “Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak otak anak bangsa”. mari merdeka-kan pikiran kita lewat berfikir seradikal mungkin namun tampa menghilangkan nilai bangsa yang terkandung dalam berbagai nomenklatur bangsa, namun dari keradikan berfikir mampu menciptakan sebuah terobosan baru yang inovatif dan solutif Dami tercapai nya Indonesia emas tahun 2045.
Gorontalo Selasa 17 Mei 2022
Regi Mokodongan