
BOLSEL,ARAHMU.ID – Di usia ke-176, Bolaang Uki saat ini dalam perjalanannya menapaki ruang sejarah dan ruang aktualitas. Sebagai daerah eks-swapraja yang kini menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Uki menyimpan jejak panjang peradaban yang membentuk identitas mayoritas masyarakatnya: keras namun penuh kasih, tegas namun tetap mengayomi.
Momentum ulang tahun hari ini tidak hanya menandai perjalanan waktu, melainkan menjadi kesempatan untuk menafsir ulang semboyan yang diwariskan leluhur: “Lrumantungo mototai, lrumodoo Mototai, ege mo si mosi mosi” (Terapung kita bersama, tenggelam kita bersama, jangan bercerai berai).
Ungkapan ini, yang berakar dari kehidupan pengembaraan masyarakat Bolaang Uki, sejatinya bukan sebatas pepatah adat, tetapi panduan moral dalam mengelola kehidupan bersama.
Dalam konteks kekinian, semboyan tersebut menuntut reinterpretasi yang lebih substantif. Terapung bersama dapat dimaknai sebagai tekad untuk maju bersama. membangun ekonomi, memperkuat tata pemerintahan, dan menegakkan keadilan sosial tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Tenggelam bersama mengandung kesadaran kolektif bahwa setiap keberhasilan atau kegagalan daerah merupakan tanggung jawab bersama, bukan milik segelintir orang. Dan jangan bercerai berai adalah pesan abadi untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan, menegaskan bahwa kebersamaan adalah jalan, bukan tujuan.
Yustinus Prastowo pernah menulis bahwa refleksi yang sejati adalah membaca masa lalu dengan mata masa depan. Semboyan adat ini mengandung daya hidup yang sama. menantang kita untuk memetik hikmah lama dan menanamkannya dalam kehidupan modern. Sementara Farid Gaban seorang jurnalis senior pernah mengingatkan bahwa kekuatan lokal selalu menjadi fondasi kebangsaan yang kokoh. Bolaang Uki telah lebih dulu mencontohkan bagaimana kearifan lokal dapat menuntun masyarakat dalam menghadapi arus zaman yang berubah.
Sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Bolsel, Bolaang Uki kini menjadi simpul pertemuan beragam kepentingan dan pandangan. Di sinilah karakter keras namun penuh kasih masyarakatnya diuji. Keras untuk menegakkan prinsip, tetapi penuh kasih untuk memelihara persaudaraan. Di saat ruang publik kita hari ini kerap terpolarisasi oleh perbedaan pandangan politik maupun sosial, nilai-nilai lama ini justru menemukan relevansinya kembali.
Pembangunan daerah tidak akan berhasil bila dijalankan dalam semangat saling meniadakan. Ia hanya akan berkelanjutan bila dilandasi semangat terapung bersama. membangun kolaborasi lintas batas, mengutamakan kepentingan bersama di atas ego sektoral. Sejarah mengajarkan, setiap perpecahan kecil dalam tubuh masyarakat akan berujung pada kehilangan arah. Karena itu, menjaga persatuan adalah bentuk kecerdasan sosial sekaligus kebijaksanaan moral.
Ulang tahun ke-176 ini sejatinya adalah alarm peringatan akan tanggung jawab sejarah. Bolaang Uki harus terus menjadi teladan tentang bagaimana perbedaan dapat dikelola tanpa memecah, bagaimana kerasnya karakter dapat berpadu dengan kelembutan hati untuk membangun rumah besar bersama.
Semboyan “terapung kita bersama, tenggelam kita bersama, jangan bercerai berai” bukanlah nostalgia, melainkan kompas moral yang menuntun arah pembangunan daerah ke depan. Yang menegaskan bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita melaju, tetapi dari seberapa kuat kita menjaga agar perahu besar bernama Bolaang Uki ini tetap terapung – bersama, bukan sendiri.