
ARAHMU.ID – Penunjukkan Desa Adow, Kecamatan Pinolosian Tengah, sebagai pusat perayaan puncak Hari Ulang Tahun Ke-17 Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang bertajuk “Pesta Rakyat” merupakan manifestasi dari konsistensi semangat gotong royong, kebersamaan, dan kesetaraan yang sejak dulu dipegang erat oleh para pemimpin daerah.
Sungguh, ini adalah kebijakan yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan yang tinggi sebuah tradisi yang telah dijalankan sejak masa pemerintahan H. Herson Mayulu dan terus bertahan hingga era Bapak H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si. dan Deddy Abdul Hamid. Sejak itu, peringatan hari-hari besar dilaksanakan secara bergilir di tujuh kecamatan yang ada di Bolsel. Mulai dari upacara peringatan Proklamasi 17 Agustus, HUT Daerah, hingga peringatan hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, Natal, dan tentu saja, Pesta Rakyat semuanya dilaksanakan dengan mekanisme bergilir.
Dengan kebijakan ini, praktis seluruh kecamatan bisa “kebagian” giliran. Masyarakat pun dapat merasakan langsung nuansa sakral dan semaraknya kegiatan pemerintah daerah, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Hal ini tentu tidak lazim dijumpai di daerah lain. Memang, pada awal pelaksanaannya, kebijakan ini sempat terdengar “nyeleneh”, namun secara substansi, maksud yang ingin disampaikan pemerintah adalah peneguhan prinsip kebersamaan. Secara implisit, tersirat teorema bahwa masyarakat di Pinolosian Timur, Posigadan, dan kecamatan-kecamatan lainnya adalah bagian utuh dari Bolsel bukan hanya yang tinggal di Ibu Kota, Bolaang Uki.
Semangat kebersamaan ini juga termanifestasi melalui penggunaan simbol-simbol budaya seperti pakaian adat, tarian daerah, dan sapaan dalam tradisi jemputan adat. Sejak awal, Bolsel telah memproklamirkan dirinya sebagai daerah multietnis. Hal ini tampak jelas dari makna logo daerah, yang menggambarkan bahwa Bolsel dihuni oleh berbagai etnis seperti Bolango, Gorontalo, Mongondow, Sangihe, dan beberapa etnis lainnya. Maka dari itu, tidak ada satu etnis pun yang direpresentasikan secara “superior” dalam identitas daerah.
Coba cermati saat upacara peringatan HUT daerah dari tahun ke tahun. Pakaian adat yang dikenakan selalu disesuaikan dengan lokasi pelaksanaan upacara. Misalnya, pakaian adat Bolango digunakan ketika upacara digelar di Kecamatan Bolaang Uki; saat di Kecamatan Pinolosian Timur, pakaian adat etnis Nusa Utara yang dikenakan; di Kecamatan Pinolosian, masyarakat mengenakan pakaian adat Mongondow; sementara di Helumo, Tomini, dan Posigadan, pakaian adat Gorontalo menjadi pilihan.
Maka, jangan heran jika lemari pakaian para pimpinan daerah menyimpan setidaknya empat hingga lima jenis pakaian adat semuanya mencerminkan etnis yang ada di Bolsel. Begitu pula dalam prosesi penjemputan tamu-tamu daerah, pelaksanaannya dilakukan dengan kolaborasi antar etnis yang ada di Bolsel. Sinergitas semacam ini bukanlah hal baru. Pemerintah benar-benar paham bagaimana mengelola psikologi publik dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Efek positifnya sangat terasa: semua lapisan masyarakat, dari berbagai etnis dan agama, merasa memiliki Bolsel.
Meski pemerintah menyadari betapa rumitnya pengaturan teknis kegiatan semacam ini di lapangan sebuah kerepotan yang mungkin tidak dirasakan daerah lain namun implikasi sosialnya nyata. Kekompakan masyarakat, baik secara sosial maupun politik, tumbuh kuat dan mengakar.
Sebagian besar daerah lebih memilih mem-branding identitasnya melalui Kominfo dengan menonjolkan satu etnis dominan, alih-alih menjadi etalase keragaman etnis. Bolsel adalah pengecualian. Bahkan, pelaksanaan upacara kenegaraan di luar ibu kota pun jarang ditemukan di daerah lain. Saya menduga hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan regulasi, tradisi, atau nilai-nilai yang dipegang masing-masing daerah. Apa yang diterapkan di Bolsel merupakan ekspresi keleluasaan dalam mengelola daerah seperti yang dijamin dalam amanah Undang-Undang Otonomi Daerah. Setiap daerah tentu memiliki ekspresinya sendiri-sendiri.
Apa yang dilakukan Pemkab Bolsel ini pada dasarnya adalah bentuk pemerataan di bidang sosial budaya, yang tidak kalah penting dari pemerataan infrastruktur.
Seluruh etnis di Bolsel memiliki catatan sejarah dan perjalanannya masing-masing. Semuanya memiliki keterikatan dengan masa pemerintahan silam seperti Kerajaan Bolaang Uki, Kerajaan Gorontalo, Kerajaan Siau, dan Kerajaan Mongondow. Inilah yang menjadi fondasi kuat pentingnya konsep multietnis yang terus dijaga oleh Pemerintah Kabupaten Bolsel.
Perspektif baru yang patut disorot adalah bahwa pemerataan sosial budaya yang diterapkan Bolsel bukan hanya soal giliran lokasi acara atau rotasi simbolik, melainkan bagian dari strategi pembangunan inklusif yang membentuk rasa kepemilikan kolektif masyarakat terhadap daerahnya. Ketika seluruh elemen masyarakat dari lintas etnis, agama, hingga wilayah merasa dilibatkan secara nyata dalam agenda-agenda pemerintahan, maka yang dibangun bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial, kepercayaan, keterikatan, dan solidaritas. Inilah fondasi yang tak kasat mata namun sangat kokoh, yang menjadi modal sosial Bolsel dalam melangkah ke tahap pembangunan berikutnya.
Tanggal 21 Juli 2025 nanti, Bolsel genap berusia 17 tahun. Ibarat seorang anak muda, usia ini adalah “sweet seventeen” masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan. Sejak dimekarkan pada 21 Juli 2008, banyak hal yang telah dicapai oleh kabupaten paling bungsu di Provinsi Sulawesi Utara ini. Meski diakui masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, namun kita juga harus fair untuk mengakui bahwa tidak sedikit pula prestasi yang telah ditorehkan. Sejalan dengan penetapan RPJMD, arah baru kebijakan daerah pun perlahan mulai ditata sesuai dengan program prioritas nasional Asta Cita Presiden.
Akhir kata, sebagai anak daerah yang lahir dan dibesarkan di Molibagu, saya mengucapkan: Selamat Hari Jadi Ke-17 Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Semoga daerah ini menjadi negeri yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Besar. Dan semoga, semangat gotong royong dan kebersamaan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu negeri ini tetap terjaga selamanya.
Fastabiqul Khoiroot
al-birru manittaqo
Nuun wal qolami wa maa yasthurun
Penulis : Delfian Thanta,S.Kom,MM (Pemerhati Budaya)