Oleh : Delfian G Thanta,S.Kom,MM

ARAHMU.ID – Pagi pukul 07:20, sederet ASN berbaris rapi. Mereka berbanjar menurut instansi, bidang, dan eselon masing-masing. Beberapa tampak siap dan necis dengan atribut lengkap, sementara yang lain hanya mengenakan pin Korpri atau bahkan seragam polos tanpa embel-embel. Di tengah barisan, sebagian lagi asyik selfie, mungkin sedang verifikasi wajah melalui aplikasi absensi. Ada pula yang antre sidik jari atau sibuk mengisi daftar hadir manual. Dari jauh beberapa ASN tampak berlarian, ngos-ngosan mengejar waktu sebelum pemimpin apel berdiri memberi aba-aba.

Potret itu adalah rutinitas pagi birokrasi kita. Hampir terjadi di seluruh instansi pemerintahan, dari pusat hingga daerah. Ritual ini dilindungi regulasi dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS, hingga peraturan kepala daerah.

Namun di balik rutinitas itu, terdapat sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan ,muncul dua kelompok ASN yang saling bertolak belakang namun sama-sama punya argumen. Pertama, mereka yang “hadir tapi tak berkinerja”, dan kedua, yang “berkinerja tapi tak hadir”.

Dua Kutub ASN dan “Konflik Senyap”

Kelompok pertama yaitu mereka yang sangat patuh pada jam kerja. Hadir saat apel pagi, mengikuti apel sore, dan memenuhi seluruh sistem presensi. Namun, tak semua dari mereka menjalankan tugasnya secara maksimal, ada beberapa sekadar mengisi waktu kerja tanpa produktivitas yang terukur, ada yang datang hanya untuk print 1-2 lembar surat dan ada yang hanya datang mengecek honor atau tunjangannya cair atau belum, namun ketika dibutuhkan mereka selalu “tersedia”, pekerjaan mereka lebih kepada pekerjaan yang membutuhkan kehadiran langsung.

Kelompok kedua justru sebaliknya. Mereka jarang terlihat, kadang datang terlambat, atau paling hanya 2-3 jam saja di kantor setelah itu langsung menghilang. Namun, output kerja mereka sangat menonjol mereka menyelesaikan dokumen penting, menghasilkan inovasi, atau menyusun laporan strategis. Karena kontribusinya tinggi, perilaku ketidakhadiran mereka sering “ditoleransi” oleh pimpinan, pekerjaan mereke lebih kepada penyediaan laporan.

Muncul “konflik senyap” diantara kedua kubu ini, ASN yang disiplin presensi mencibir mereka yang tak hadir. Sebaliknya, kelompok berkinerja mengejek mereka yang hadir tapi tidak memberi kontribusi. Situasi ini menciptakan polarisasi dan “ketegangan” tersembunyi dalam dinamika birokrasi kita.

Disiplin Vs Produktivitas: Apa yang Harus Didahulukan?

Presensi fisik di kantor sering dianggap simbol loyalitas dan kekompakan. Hal ini melahirkan budaya presensialisme, di mana kehadiran lebih dihargai dibanding hasil kerja. Padahal, dalam manajemen SDM modern, konsep performance-based management dan outcome-based governance lebih menekankan pada kontribusi nyata. Birokrasi itu ibarat sebuah orkestra, dalam sebuah orkestra tak semua alat musik terlihat mencolok, tapi semuanya harus selaras agar menghasilkan harmoni pelayanan publik yang optimal.

Tantangan dan Peluang Cara Kerja Fleksibel

Pandemi COVID-19 memperkenalkan pola kerja baru yaitu Work From Home (WFH). Meski tidak semua bidang ASN cocok menerapkannya, riset membuktikan bahwa bagi sebagian pegawai, WFH justru meningkatkan semangat dan efisiensi kerja.

Misalnya, penelitian Rahmadani & Samsir (2022) menunjukkan WFH meningkatkan kenyamanan kerja. Penelitian lain oleh Rezeky Ana Ashal (2020) menyebut WFH menumbuhkan semangat kerja karena pegawai merasa lebih tenang. Meski begitu, penerapan WFH tetap memiliki kelemahan dan tantangan seperti lemahnya pengawasan, kerja tim yang menurun, serta gangguan pekerjaan rumah lain (Hutabarat dkk, 2022).

Sejatinya, ASN seharusnya tidak memilih antara disiplin atau kinerja. Keduanya adalah satu paket,satu kesatuan komplit tak terpisahkan. Idealnya, mereka yang hadir secara fisik harus sekaligus memiliki kinerja optimal. Apel pagi jangan hanya diterjemahkan sebagai seremonial, tapi bisa jadi momentum pembinaan dan penyampaian arah kebijakan organisasi. Sementara kinerja merupakan output dari profesionalisme kerja.

Solusi dan arah baru pengelolaan ASN

Menghadapi realitas ASN dewasa ini, solusi tidak harus selalu didefinisikan mengganti aturan yang sudah ada, tetapi bagaimana kebijakan dan implementasi bisa dilakukan secara lebih fleksibel. Ada tiga pendekatan solutif yang dapat diterapkan, tanpa melanggar regulasi yang berlaku:

  • Apel Pagi dan Sore, Aktifitas rutin namun lebih fleksibel

    Prinsipnya apel pagi dan sore adalah budaya kerja yang baik meski terkesan kental dengan ritus birokrasi yang seremonial tapi punya landasan hukum perundang-undangan yang kuat, selain itu sesuai riset mampu meningkatkan kinerja ASN dari segi kekompakan dan kebersamaan (Desmond dkk,2022), Untuk ASN dengan tugas fungsional atau lapangan, apel bisa dilakukan secara adaptif, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, termasuk dalam bentuk briefing lapangan dan koordinasi via daring. Teknisnya, saat apel fisik dilaksanakan di kantor, pegawai yang berada di lapangan juga melakukan apel secara daring, sehingga prinsip kebersamaan tetap terjaga meski tidak berada di tempat yang sama.

    • Presensi fleksibel berbasis tugas dan output

    Fleksibilitas kerja ASN telah tertuang dalam Permenpan RB nomor 4 tahun 2025 dan sesuai pertimbangan pimpinan, fleksibilitas kerja bukan hak ASN melainkan diberikan melalui pertimbangan objektif dan tujuan organisasi. Fleksibilitas tersebut terkait degan waktu kerja,lokasi, dan fleksibilitas dinamis. ASN yang mendapat penugasan fleksibilitas kerja dievaluasi paling sedikit satu kali dalam 6 bulan, bisa saja penugasan bisa berakhir atau diganti dengan orang lain, sehingga ASN yang mendapat “beban” kerja fleksibel bisa berganti-ganti tidak melulu pegawai itu-itu saja. Semua tentu ingin bekerja dari rumah atau dari lapangan, namun semua punya porsi dan ukurannya tergantung pimpinan.

    • Pemanfaatan AI dan dashboard untuk pengawasan real-time

    Sistem E-Kinerja yang ada sekarang perlu dikembangkan dengan menggunakan AI yang dilengkapi dashboard yang bisa dipantau oleh pimpinan secara berjenjang untuk pengawasan secara real time. Hal ini sebenarnya telah diterapkan lewat Whatssap grup Instansi namun perlu ada sebuah fitur khusus yang ditambahkan sehingga pimpinan bisa mengetahui kerja apa atau dokumen apa yang dikerjakan oleh setiap individu , sistem ini sudah diterapkan di perusahaan start up dunia, dan paling penting sistem ini terintegrasi dengan sistem pembayaran tunjangan penghasilan pegawai sehingga memudahkan pengawasan.

    Penutup

    Akhirnya, birokrasi di masa depan bukan hanya tentang siapa yang hadir paling pagi atau yang pulang paling malam, melainkan tentang siapa yang punya produktifitas paling baik dan kualitas kerja paling tinggi, juga tentang siapa yang bekerja dengan hati dan memberi kontribusi nyata dan membawa dampak signifikan bagi pelayanan publik.Kita sadar, kerja seorang ASN fungsional berbeda dengan struktural namun tidak sampai membentuk sistem kelas sosial.

    ASN hari ini harus menjadi pribadi yang benar-benar hadir secara fisik, terlibat langsung secara emosional di tengah ruang lingkup kantor ataupun masyarakat, dan berdampak secara profesional. Paradoks antara hadir dan berkinerja bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dijembatani dan difasilitasi dicarikan solusi konkrit demi birokrasi yang lebih sehat demi pelayanan publik yang prima.

    By admin

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *