Problem-problem kebangsan dan keumatan tidak bakal rampung dengan cara musuhan.PDIP adalah realitas. PKS adalah realitas. Perindo adalah realitas. Partai Umat. Partai Amanat juga realitas. Soekarno kemudian menggagas negeri boeat semua, itulah Indonesia.

Negara hadir pada saat muktamar pemuda Muhammadiyah. Megawati nyaman. Jokowi betah. Para penggede kaum nasionalis abangan itu seperti di rumah sendiri. Saya sempat mengkomparasi betapa negara hadir saat perayaan satu abad NU. Dan Muktamar Pemuda Muhammadiyah menjawab tuntas bagaimana negara dihadirkan.

Dua muktamar yang menurut saya punya cita rasa yang sangat berbeda— muktamar Muhammadiyah yang anggun dan elegant dan muktamar pemuda yang humanis, inklusif dan nyaman bagi semua.

Ternyata Muhammadiyah itu begitu luas dan kita belum bisa menjamah semua. Ada ruang-ruang dimana para kader yang berdiaspora di luaran bisa nyaman kembali pulang

Membuat nyaman para kader adalah yang utama atau sisi lain dalam berMuhammadiyah dan itu tak gampang ditengah arogansi identitas ketika sesama kader penggerak saling menakar ke—asliannya. Mengaku paling otentik, paling kader adalah sesuatu yang lazim meski tak elok.

Jadi kenapa Ki Bagoes Hadikoesoemo merelakan tujuh kata pada sila pertama dihapus ?

Dua puluh atau lima puluh tahun silam para ulama founding father kita berhasil mengajak ratusan bahkan ribuan kaum abangan, santri jumud, kaum theosofi, kejawen dan liberal nasionalis masuk Muhammadiyah, karena dakwahnya yang inklusif. Apakah masih berlaku hingga sekarang ?

Atau Jangan-jangan kita ini adalah sekumpulan kader expaiad yang sudah lapuk yang tak lagi relevan dengan jaman. Yang pikiranya jumud tapi mengaku progresif. Yang melawan kemodernan yang di gagas kyai Dahlan.

Pikiran-pikiran kita sudah tak nyambung dengan pikiran anak muda milenal.  Melawan kemodernan karena teramat puritan. Tegasnya kita ini adalah sekumpulan ‘kaum tua’ yang tinggal di perkumpulan progresif.

Leotrap Stodard menulis tentang betapa pentingnya menangkap kembali api Islam. HOS Tjokro Aminoto maha guru politisi Islam Indonesia menyebut tentang ruh Islam spirit Islam atau suluh Islam agar setiap kita tercerahkan— bukan Islam sontoloyo yang merasa besar di tempurung sempit. Walahu taala a’lm

Ust Nurbani Yusuf

(Komunitas Padang Masyhar)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *