KOTAMOBAGU,ARAHMU.ID — Balai Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Balai Pengamatan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan tanah (PGAMBGT) Sulawesi–Maluku menggelar kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi bagi pemerintah Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur dan Kota Kotamobagu.

Kegiatan ini berlangsung di Hotel Sutan Raja, Kotamobagu, Sulawesi Utara, Rabu (26/11/2025), turut dihadiri Kepala BPBD Kotamobagu, Asriyanti.

Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman berbagai pihak terkait potensi ancaman geologi di wilayah Kota Kotamobagu, Boltim dan Bolmong termasuk risiko gempa bumi, gerakan tanah, serta potensi aktivitas vulkanik mengingat posisi daerah ini yang berada di kawasan rawan bencana.

Kepala Balai PGAMBGT Sulawesi–Maluku, Juliana Rumambi, memaparkan bahwa Gunung Ambang memang berada pada status Level I (Normal), namun, ia menegaskan bahwa kondisi “normal” tidak identik dengan “aman”.

“Kawah Gunung Ambang kini terbuka dan bisa mengeluarkan gas beracun kapan saja. Ini berbahaya, terutama bagi pendaki yang bermalam di area kawah,” ujar Debby Sapaan Akrab Juliana Rumambi.

Ia mengingatkan, sejarah menunjukkan Gunung Ambang pernah meletus besar dan dampaknya mencapai Kotamobagu serta wilayah sekitarnya, dan rekam jejak tersebut menjadi pengingat bahwa kewaspadaan harus dijaga setiap saat.

PVMBG juga menekankan tiga imbauan penting bagi para pendaki—imbauan yang disebut sebagai “penyelamat nyawa”:

  1. Dilarang bermalam di area kawah.
  2. Jangan mendaki saat cuaca buruk.
  3. Waspadai erupsi freatik yang dapat terjadi tiba-tiba tanpa tanda awal.

“Erupsi freatik itu yang kami khawatirkan. Cepat, tiba-tiba, dan sangat berbahaya. Apalagi saat musim hujan,” ucapnya.

Juliana juga menekankan bahwa program ini untuk peningkatan kapasitas dan edukasi yang sangat vital.(MEP)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *