
Oleh : Delfian G Thanta, S.Kom,MM
ARAHMU.ID – Di dunia birokrasi, perubahan itu hal biasa. Regulasi berganti, kebijakan baru muncul, dan mutasi jabatan dari level pengawas hingga pejabat tinggi sudah menjadi bagian dari rutinitas. Tujuannya macam-macam, mulai dari penyegaran, peningkatan kinerja, mengisi posisi kosong, hingga kebijakan strategis dari pimpinan. Selama dilakukan sesuai aturan seperti UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN dan peraturan terkait lainnya, pergantian pimpinan bukan hal yang perlu dipersoalkan, itu adalah sunatullah.
Namun, masalah sering muncul ketika seorang pimpinan baru masuk ke lingkungan yang sudah punya “budaya kerja” tertentu. Budaya ini bisa bagus teratur, disiplin, saling dukung atau bisa juga sebaliknya, longgar, kurang disiplin, bahkan ada yang sampai memunculkan kelompok-kelompok kecil yang sibuk dengan kepentingan sendiri. Budaya kerja yang sudah mengakar ini sulit diubah dalam waktu singkat, karena sudah menjadi kebiasaan bahkan tradisi sehari-hari pegawai.
Misalnya, aturan apel pagi seharusnya jam 07.30. Tapi di kantor dengan budaya kerja lemah, apel bisa molor ke jam 08.00 atau lebih, atau ketika deadline pemasukan laporan di hari tertentu tidak bisa dipenuhi karena saling lempar tanggung jawab. Lama-lama ini jadi “normal” dan diikuti semua orang bahkan “menjangkiti” pegawai baru yang masuk. Sebaliknya, kalau budayanya sudah disiplin, kebiasaan baik ini juga sulit diubah meski ada pergantian pimpinan.
Budaya kerja adalah denyut nadi organisasi,menurut Robbins dan Judge (2017), budaya kerja adalah sistem makna bersama yang dianut anggota organisasi dan membedakan satu organisasi dari organisasi lainnya. Sementara itu, Luthans (2011) menambahkan bahwa budaya kerja mencakup nilai, norma, dan keyakinan yang membentuk perilaku karyawan sehari-hari. Dalam bahasa sederhana, budaya kerja adalah “cara kita” yang terus-menerus diulang hingga menjadi kebiasaan kolektif.
Saat pemimpin baru masuk,tentu ia membawa visi sendiri.Ini bisa terjadi pada semua orang. Pertanyaannya, apakah ia akan mengikuti budaya yang ada, atau mencoba mengubahnya?
Dalam ilmu kepemimpinan, ada dua gaya yang sering dibahas: kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional.
- Pemimpin transformasional menginspirasi, punya visi besar, memberi perhatian pada setiap orang, dan mendorong orang berpikir kreatif.
- Pemimpin transaksional fokus pada hubungan timbal balik: target tercapai, bawahan mendapat imbalan atau penghargaan; kalau melanggar aturan, ada sanksi.
Solusi bagi pemimpin baru
Pendekatan transformasional sebaiknya jadi prioritas karena bisa membangun kepercayaan dan mengubah budaya kerja ke arah yang lebih positif.Karena sesuai beberapa riset, salah satunya oleh Indriana Kurnia Cahyati,Mery Adelia (2024) kepemimpinan transformasional dan partisipatif, dengan elemen-inspirasi dan motivasi, mampu menggerakkan semangat karyawan untuk mencapai kemampuan penuh mereka. Tapi di masa transisi, unsur transaksional tetap berguna, misalnya untuk memastikan aturan dasar dipatuhi dan keteraturan terjaga.Karena perubahan tidak bisa secepat kilat, sebuah organisasi butuh transisi yang “mulus” sehingga tidak menimbulkan gejolak.
Langkah awal yang penting adalah memetakan budaya kerja yang ada, mengidentifiksi siapa saja yang menjadi penggerak positif maupun penghambat, lalu menyusun strategi perubahan yang bertahap. Budaya baik dipertahankan, budaya yang buruk diperbaiki step by step sehingga tidak menimbulkan perlawanan. Pemimpin juga perlu membuka dialog, menciptakan suasana terbuka, dan melibatkan pegawai dalam proses perubahan.
Penutup
Akhirnya, mari kita akui. Untuk melakukan perubahan dalam sebuah organisasi tidak melulu dengan mengganti orang. Yang lebih mendesak adalah menumbuhkan nilai dan budaya kerja yang sehat dan produktif. Seorang pemimpin yang bijak tahu bahwa kesuksesan datang dari sebuah proses yang panjang mulai dari hal kecil membuang kebiasaan buruk, dan membangun rasa memiliki di sanubari setiap anggota, hingga menjadi budaya kerja positif. Jika ini tercapai pasti seorang pemimpin mampu membawa organisasi lebih maju dan ia dicintai anggotanya dalam hal ini ASN yang ada di dalam instansinya.