
BOLSEL,ARAHMU.ID – Rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-175 Bolaang Uki yang di support penuh oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bolaang Mongondow hari ini menggelar “Dialog Budaya dan Bedah Buku Mukadimah Celebes Utara” yang ditulis oleh Patra Mokoginta, Selasa(29/10/2024).
Dialog ini menghadirkan Patra Mokoginta,S.Hut sebagai penulis dan Murdiono Mokoginta,M.Hum sebagai pembedah sedangkan moderator oleh Ika Juliastry Pontoh,SH,M.Si dan dihadiri oleh para undangan yang terdiri dari Budayawan,Tokoh adat, dan generasi muda Bolsel.

Patra Mokoginta dalam kesempatan ini memaparkan garis besar buku yang ditulisnya, ia menerangkan argumen yang dibangun dalam penulisan buku ini berdasarkan sumber primer catatan masa lampau ia meyakini bahwa Wintu-wintu yang merupakan pemimpin pertama etnis Bolango berasal dari Maluku Utara lebih tepatnya dari Bacan.
“Saya meyakini Wintu-wintu adalah Komalo besi atau Raja Bacan , Wintu-wintu ini yang membawa rombongan besar bermigrasi ke Sulawesi Utara melalui Pulau Batang Dua dan Lembeh,” terangnya.
Ia juga mengemukakan bahwa Wintu-wintu dan rombongannya merupakan komunitas bahari yang telah mengetahui seluk-beluk perdagangan jalur laut sehingga mudah berinteraksi dengan penduduk lokal yang sudah ada di Sulawesi Utara.

Sementara itu, Murdiono Mokoginta,M.Hum menjelaskan bahwa kehadiran buku ini menambah referensi baru bukan hanya bagi etnis Bolango akan tetapi bagi Sulawesi Utara, penulis menawarkan perspektif baru dalam memandang etnis Bolango sehingga bagi masyarakat Bolsel khususnya yang ada di Bolaang Uki wajib membeli buku ini.
“Saya menyarankan kepada masyarakat Bolaang Uki, khususnya Generasi Muda untuk membeli buku ini, karena di dalamnya terdapat perspektif baru bagaimana memandang sosok Wintu-wintu dimulai dari Maluku Utara dan berakhir di Molibagu,” Urainya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Hj Rante Hattani,S.Pd,M.Si menyampaikan bahwa selaku instansi yang membidangi Kebudayaan ia berupaya mengangkat semua budaya yang ada di Bolsel. Khusus Budaya Bolango menjadi perhatian khusus karena masih kurangnya referensi sehingga pihaknya perlu melakukan upaya-upaya serius untuk menggali potensi adat dan tradisi Budaya sehingga kedepan ini bisa dipertahankan dan dilestarikan.(Aulia)